oleh

Ancam Presiden Jokowi, Ruslan Buton Pecatan TNI Masuk Hotel Prodeo Bareskrim Mabes Polri

JAKARTA,channel-indonesia.com– Ruslan Buton (RB) mantan anggota TNI  yang menyebarkan rekaman berisikan surat terbuka yang berisikan agar Presiden Joko Widodo mundur, telah resmi ditahan penyidik Bareskrim Mabes Polri.

Penahanan terhadap tersangka RB ini, didasarkan pasal dugaan tindak pidana menyebarkan informasi yang menimbulkan rasa kebencian, menghina penguasa, atau menyebarkan berita bohong yang menimbulkan keonaran. RB mendekam di penjara Bareskrim untuk 20 hari pertama dari tanggal 29 Mei 2020 sampai dengan tanggal 17 Juni 2020

Sebelum dijebloskan ke tahanan RB sempat diperiksa petugas selama kurang lebih 7 jam setibanya di ruang periksa Dittipidsiber lantai 15 Gedung Bareskrim maka sekitar jam 08.00 WIB.

Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan melalui  siaran langsung di Youtube Tribrata TV, Jumat (29/5) menerangkan  RB ditetapkan sebagai tersangka kasus hoaks oleh Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri ini

Atas perbuatannya, lanjut Ahmad Ramadhan, Ruslan ditetapkan sebagai tersangka pelanggaran Pasal 14 ayat 1 dan 2 (terkait hoaks) dan atau Pasal 15 (soal kabar tak pasti) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.

Selain itu, ada Pasal 28 ayat 2 (tentang penyebaran kabar yang memicu permusuhan) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dengan ancaman pidana enam tahun, dan atau Pasal 207 KUHP tentang penghinaan terhadap penguasa, dapat dipidana dengan ancaman penjara dua tahun.

Dalam waktu berbeda, Kepala Dinas Penerangan TNI AD (Kadispenad) Kolonel Inf Nefra Firdaus menegaskan bahwa Ruslan Buton (RB) bukan seorang prajurit lagi.

Dijelaskan Kadispenad RB dipecat karena kasus pembunuhan La Gode pada Oktober 2017.

“Ruslan Buton telah dipecat dengan tidak hormat dari TNI karena kasus pembunuhan La Gode pada Oktober 2017. Mantan perwira pertama di Yonif RK 732/Banau terakhir berpangkat Kapten Infanteri,” ujar Nefra saat dikonfirmasi channel-indonesia melalui pesan singkatnya, Minggu (31/5/2020).

Saat dipecat, jelas Kadispenad, Ruslan menjabat Komandan Kompi sekaligus Komandan Pos Satgas SSK III Yonif RK 732/Banau berpangkat Kapten Infanteri.

” Saat itu Ruslan menjadi komandan kompi sekaligus komandan Pos Satgas SSK III Yonif RK 732/Banau. Nefra menyebut belasan oknum personel TNI yang bertugas di Pos Satgas SSK III Yonif RK 732/Banau juga didakwa melakukan penganiayaan itu,” imbuhnya.

Ditambahkan Kadispenad, Oditur Militer Ambon mendakwa Ruslan dan anak buahnya melanggar Pasal 338 juncto Pasal 55 ayat (1) KUHP primer Pasal 170 ayat (1) tentang menggunakan tenaga secara bersama-sama untuk melakukan kekerasan terhadap seseorang dan (3) juncto Pasal 156 atau Pasal 170 ayat (1) dan (2) juncto Pasal 56 KUHP. Ruslan pun dipecat dari TNI usai vonis dibacakan pada 2018 lalu.

Sebagai informasi, kasus yang melibatkan Ruslan hingga dipecat dari TNI ini berawal dari penangkapan yang dilakukan terhadap La Gode karena mencuri singkong.

Kemudian, La Gode dititipkan ke Pos Satuan Tugas Pengamanan Daerah Rawan (Satgas Pamrahwan) di Pulau Taliabu, Maluku Utara karena polisi tak ada ruang tahanan. Akan tetapi tak lama kemudian, La Gode ditemukan tewas karena penganiayaan.

Seiring waktu pasca dipecat dari TNI AD,  Ruslan atau RB membentuk  kelompok yang diberinama “Serdadu Ekstrimatra”. Kelompok bentyukan Ruslan ini beranggotan mantan prajurit TNI dari tiga matra, yaitu darat, laut, dan udara.

Pada  tanggal 18 Mei 2020, Ruslan membuat sebuah rekaman yang meminta Presiden Joko Widodo mundur, mengkritik pemerintah yang dianggap gagal menghadapi wabah corona, bahkan Ruslan mengatakan akan ada gelombang revolusi yang mengancam pemerintahan Presiden Joko Widodo.

“Namun, bila tidak mundur, bukan menjadi sebuah keniscayaan akan terjadinya gelombang gerakan revolusi rakyat dari seluruh elemen masyarakat,” kata Ruslan dalam rekaman suaranya yang dikirim melalui pesan singkat kepada ke grup WhatsApp “Serdadu Ekstrimatra”. Tidak butuh waktu lama, rekaman suara Ruslan kembali beredar ke masyarakat melalui media sosial.

Petugas Kepolisian berhasil menciduk Ruslan dari rumahnya yang ada di Kecamatan Wabula, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara (Sultra), pada Kamis (28/5) pagi waktu setempat. (Luska)

Selengkapnya