Tim TMMD 101 MUna Barat sedang mempercantik Tugu Pesawat di Desa Kusambi.(Ist)

MUNA BARAT, Channel-Indonesia.com – Tim Satgas TMMD 101 Muna Barat bukan saja berhasil membangun maupun memperbaiki sarana prasaran desa, tetapi juga telah berhasil mengungkap fakta sejarah penting perjuangan Indonesia, dimana salah satu daerah sasaran TMMD di Desa Kusambi, Kecamatan Kusambi salah satu desa di Kota Laworo, kabupaten Muna Barat (Mubar) ternyata mempunyai nilai sejarah.

Hal tersebut terungkap ketika tim Satgas TMMD memperbaiki sarana rekreasi warga Tugu Pesawat dengan replika pesawat tempur kuno saat jaman penjajahan Sekutu dan Jepang.

Setelah ditelusuri cikal bakal berdirinya tugu tersebut ternyata pada saat perang dunia ke 2, desa Kusambi merupakan salah wilayah di Sulawesi Tenggara yang dipakai oleh Jepang untuk menghantam musuhnya, yaitu dengan dibangunnya pangkalan Pesawat Militer Jepang untuk menurunkan bahan logistik maupun alat persenjataan.

Kusambi saksi sejarah adanya perang antar Sekutu, Jepang dan Indonesia ini dibuktikan dengan adanya peninggalan landasan pesawat terbang yang kini bernama Bandara Udara Sugimaru.

Keberadaan Bandara Sugimaru ini ditandai dengan adanya Tugu dengan replika pesawat tempur jaman kuno.

Diperoleh dari berbagai sumber dalam strategi perang udara Jepang, Kendari merupakan titik tumpu bagi pesawat tempur Jepang mencegat rute pesawat sekutu dari Hindia Belanda menuju Australia, dan sebaliknya. Dari Kendari lah, Jepang mengisolir Australia dari bantuan Sekutu selama Perang Dunia II, juga menjadi basis pesawat pembom Jepang agar mampu menjangkau pusat-pusat pertahanan Sekutu dan Tentara Pejuang Republik Indonesia di Jawa (seperti Surabaya) dan Kepulauan Timor (seperti Kupang).

Pada malam tanggal 23-24 Januari 1942, Perwira dan Tentara Sasebo Jepang dari Satuan Khusus Gabungan (Pasukan Pendaratan Angkatan Laut Jepang – Naval Landing Force) menuju bagian utara Kendari. Dalam beberapa jam saja, pasukan ini segera mencapai tujuan operasi mereka malam itu; Lapangan Udara Kendari (Kendari Naval Base).

Laksamana Muda Karel Doorman memimpin operasi gabungan Sekutu laut ABDA menghadapi kekuatan Armada Takahashi di Selat Makassar. Kehancuran kekuatan laut ABDA (pasukan Sekutu gabungan America, British, Dutch Australia) ketika itu terdiri dari empat kapal penjelajah, dua milik Belanda dan Amerika dan empat kapal perusak dari anggota ABDA.

Pada pertempuran itu, ABDA mengalami kekalahan telak. Kapal penjelajah ringan, HNMS de Ruyter rusak berat akibat serangan udara pesawat tempur Zero Jepang. Pada hari yang sama kesatuan detasemen Kekuatan Timur Jepang berhasil merebut pangkalan udara Kendari di Sulawesi Tenggara. Kedudukan ini memperkuat supremasi Jepang menguasai angkasa Laut Jawa dan mengancam pangkalan angkatan Laut Hindia-Belanda di Surabaya dan Jawa Timur dan Australia Utara.

Sejak semenanjung Sulawesi Tenggara dikuasai, markas Angkatan Laut Gabungan ABDA di evakuasi dari Surabaya ke Cilacap dengan nama sandi “Flapjap” oleh Sekutu.

Perebutan pangkalan strategis di Kendari memperkuat posisi Jepang melakukan penyerbuan di perairan Maluku. Kota Ambon di dukung oleh kesatuan Armada Kapal Induk pimpinan Laksamana Muda Nagumo pada tanggal 24 Januari 1942.

Salah satu pangkalan udara militer Jepang yang berada di Sulawesi Tenggara adalah di Desa Kusambi, Muna Barat ini. Pangkalan Udara di Desa Kusambi pada masa itu berguna untuk menurunkan logistik atau maupun persenjataan perang terhadap ABDA dan Indonesia.

Namun sangat disayangkan, sekelumit cerita soal keberadaan lapangan terbang militer Jepang di Desa Kusambi ini kurang di gaungkan oloh Pemerintah Daerah setempat, selain itu kurangnya informasi kepada generasi penerus di daerah tersebut tentang awal mula berdirinya Tugu Pesawat, sehingga sejarahnya pun terhempas oleh angin waktu.

Saat ini Bandara Udara Sugimaru telah menjadi bandara komersil bagi Pesawat-pesawat kecil dengan rute Makassar – Sugimaru, tentunya dengan jadwal yang masih terbatas yaitu penerbangan hanya sekali dalam sehari.

Menurut informasi nantinya akan ada dua maskapai yang akan meningkatkan jam terbangnya menjadi 2 kali sehari.

Keberhasilan Tim Satgas TMMD Muna dalam mengungkap sejarah ini bermula dari adanya perbaikan sarana rekreasi Tugu Pesawat sebesar 30 X 22,15 m yang merupakan sasaran 9 program kerja TMMD ke 101.

Belum jelas pasti kapan Tugu Pesawat ini mulai dibangun, namun dari cerita-cerita para Tetua di Desa Kusambi sekitar Tugu Pesawat ini dulunya adalah lokasi rekreasi berupa taman, namun seiring waktu dan perubahan jaman, Tugu Pesawat ini terabaikan berserak rerumputan liar dan tidak terawat.

Hingga datanglah Tim Satgas TMMD ke-101 Muna Barat. Diucapkan La Sainu, pembenahan sarana rekreasi Tugu Pesawat di desanya sangat bermanfaat, karena dapat memberikan berbagai dampak positif bagi warga di desa nya ketika akan berekrasi ataupun bersantai.

“Kalau sarana rekreasi ini bagus, saya yakin juga akan memacu kegiatan ekonomi produktif di desa kami,” ujarnya kepada Penrem 143/Haluoleo, Kamis (12/4/2018).

Menurut dia, keindahan sarana rekreasi Tugu Pesawat akan menjadi daya tarik tersendiri bagi warga Kecamatan Kusambi.

Warga Kosambi berharap dengan dibangunnya kembali Tugu Pesawat serta taman disekelilingnya, nantinya Tugu ini akan menjadi icon bagi Desa Kosambi, seperti Tugu Jati di Raha ataupun Tugu Religius di Kendari.

Oleh karena itu La Sainu mengapresiasi ide dari Satgas TMMD yang menjadikan program pembenahan sarana rekreasi Tugu Pesawat di desanya menjadi salah satu sasaran program TMMD ke-101 Muna Barat.

“Bapak-bapak TNI sangat memahami bagaimana membangkitkan perekonomian warga di desa dengan memaksimalkan potensi yang ada, ide pembenahan sarana rekreasi ini sangat tepat karena di desa kami Bandara Udara Sugimaru berada,” kata Sainu.

Sebagai wujud apresiasi tersebut kata dia, setiap hari warga antusias membantu personel TNI untuk merampungkan pembangunan sarana rekreasi Tugu Pesawat itu.

“Bisa dilihat antusiasme warga yang datang bekerja di sini setiap hari pak,” pungkas La Sainu.(Maliki/Berbagai sumber)

LEAVE A REPLY