oleh

Gemapi Peringati Kembalinya Irian Barat ke Pangkuan Ibu Pertiwi

JAYAPURA, Channel-Indonesia.com – Untuk mengingat sejarah penting, kembalinya Irian Barat ke pangkuan ibu pertiwi pada 1 Mei 1963 yang ke 55 tahun, Gerakan Mahasiswa Papua Indonesia (GEMAPI) dan Pemuda Panca Marga Provinsi Papua serta puluhan anak motor Astra se-Jayapura melakukan upacara bersama di Monument Tugu Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA), Selasa (1/5/2018) kemarin.

Koordinator GEMAPI, Daniel mengatakan, sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia tidak terlepas dari peran semua stakeholder dimasa lalu yang berjuang bersama-sama dengan proses yang begitu panjang untuk memperoleh kemerdekaan bangsa.

“Sejarah mencatat bahwa setiap daerah di Indonesia mempunyai masalah yang sama dalam merebut kemerdekaan bangsa dengan berjuang melawan penjajah untuk memepertahankan keutuhan bangsa Indonesia, ” kata Daniel dalam sambutannya pada uoacara peringatan 1 Mei.

Menurutnya, ini adalah realita dan sudah 55 tahun (1 Mei 1963 – 1 Mei 2018) Papua adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang adalah satu kesatuan dari Sabang sampai Merauke.

Untuk itu, lanjutnya, dengan semangat kebangsaan cinta tanah air serta patriotisme maka sudah selayaknya kita mensyukuri dan merayakan peristiwa penting ini sebagai hari kembalinya Papua ke pangkuan Ibu Pertiwi.

“Jadi selayaknya kita mensyukuri dan merayakan peristiwa penting ini sebagai hari kembalinya Papua ke pangkuan ibu pertiwi, ” ucapnya.

“Mari tetap belajar menimba ilmu untuk membangun Papua. Mari bersama kita merawat monument tugu PEPERA yang ada di wilayah Papua lainnya, ” sambungnya.

Ia pun ingin memyampaikan kepada semua lapisan masyarakat di Papua untuk kembali memupuk persatuan dan kesatuan dalam menjaga nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila

Anggota Divisi Hukum dan HAM Pemuda Panca Marga Provinsi Papua, Korneles Wakaat, S. Sos berpesan agar menggunakan kemerdekaan ini demgan sebaik baiknya, tidak terpengaruh dengan segal macam tindakan, hasutan atau informasi yang belum tentu kebenarannya.

“Hari ini sejarah mencatat bahwa Papua sudah final dalam NKRI.1 Mei itu sejarah internasional, tapi secara fakta bahwa secara nasional dulu dari Sabang sampai Merauke semua itu adalah satu kesatuan yang di perjuangkan untuk kemerdekaan bangsa ini, ” ujar Neles sapaan akrabnya.

Menurutnya, isilah kemerdekaan ini dengan baik, juga tingkatkan SDM dan tingkatkan kualitas ilmu kita.

Apalagi lanjutnya, ini jaman globalisasi, tidak ada batasan antara negara yang satu ke negara yang lain membatasi orang untuk datang dan keluar.

“Siapa yang berkualitas kedepan, itu yang dipakai dan itu yang digunakan untuk membangun Papua ini dan negara ini atau bahkan internasional, ” imbuhnya

Bahkan kata Neles, Papua hari ini menjadi perhatian dunia, orang semua ingin datang kesini.

“Saya katakan jika kita yang tinggal di Papua ini tidak mempersiapankan SDM kita dengan baik, maka jangan salahkan orang lain tapi salahkanlah dirimu sendiri, ” tandasnya.

Untuk itu, ia mengingatkan, jangan lagi terpengaruh dengan segala macam ajakan.

“Supaya kedepannya dirimu sendiri berkualitas, keluargamu juga berkualitas dan bangsa ini memiliki generasi yag berkualitas juga, ” pesannya.

Sementara itu, Heemskercke Bonay, putri mantan gubernur pertama Irian Barat, Elizer Yan Bonay memgatakan, kalau kita mengenang Tugu PEPERA ini, adalah penentuan pendapat rakyat 19 November 1969 itu sah, dan Papua final di dalam NKRI.

“Dan itu tidak ada tawar menawar disitu, bahwa Papua final. Oleh sebab itu saya mohon kepada generasi muda jangan terhasut isu-isu yang akhirnya menyesatkan adik-adik sekalian tetapi marilah adik-adik boleh menimba ilmu sebaik-baiknya dan bisa bersaing dengan saudara-saudara kita yang dari luar yang datang bersama sama dengan kami disini, ” kata dia.

Menurut Heemskercke, 1 Mei ini adalah hari bersejarah yang sering dilupakan.

Ia pun berharap agar peringatan 1 Mei, jangan dianggap sebagai hari biasa-biasa saja yang cuma datang peringati 1 Mei dengan upacara atau hanya kegiatan biasa.

Oleh karena itu, ia mengusulkan agar pemerintah pusat harus undangkan 1 Mei dalam lembaran negara menjadi hari persatuan Indonesia.

“Karena ufuk timur Irian Barat ini menjadi tonggak sejarah, dan menjadi patokan bahwa Indonesia tanpa Irian Barat bukan Indonesia, ” ucapnya.

“Meskalipun kami tidak banyak, tetapi dari sedikit ini, dia akan menyebar menjadi banyak, terus berjuang dalam mempertahankan NKRI, ” pungkasnya. (Resti)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait