oleh

Kapolresta Tangerang Kombes Sabilul Alif Ingatkan Praja IPDN Bahaya Neorevivalisme

Sumedang, Channel-indonesia.com – Kapolresta Tangerang Kombes Pol M Sabilul Alif mengingatkan kepada mahasiswa praja pada Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) di Kampus IPDN, Jatinangor, Sumedang, untuk menjauhi bahaya gerakan neorevivalisme.

Hal tersebut dikatakan Kapolresta Tangerang Kombes Sabilul Alif saat menjadi pemateri pada kuliah umum Penanaman Nilai-Nilai Revolusi Mental bagi Praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) di Kampus IPDN, Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, Sabtu (24/3/18).

Menurutnya neorevivalisme adalah bentuk baru dari revivalisme namun dengan corak keagamaan yang lebih keras, bahkan cenderung radikal.

“Revivalisme sendiri adalah sebuah gerakan kebangkitan dengan semangat agama yang berpandangan bahwa harus ada gerakan pemurnian agama dan menganggap kedaulatan harus sepenuhnya diserahkan kepada Tuhan,” terang Kapolres Kombes M Sabilul Alif.

Obsesi menjadikan agama sambung Kapolres, sebagai dasar negara sudah ada sejak dulu. Kapolres mengisahkan diproklamasikannya Negara Indonesia Islam (NII) oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo pada tahun 1949.

“Ini menunjukkan bahwa obsesi mendirikan negara Islam sudah ada sejak dulu. Padahal, komposisi bangsa Indonesia begitu beragam. Dalam Islam sendiri, kita tahu terdapat beberapa perbedaan,” tandasnya

Menurut Kapolres, gerakan neorevivalisme di era mutakhir di Indonesia adalah dengan munculnya Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). HTI, kata Kapolres, memiliki paham bahwa sistem khilafah harus diterapkan. Gerakan HTI, lanjut Kapolres, berbahaya bagi keutuhan NKRI.

“Haedar Nashir dalam buku Memahami Ideologi Muhammadiyah, memasukkan HTI sebagai gerakan neorevivalisme,” jelasnya.

Dengan paparan tentang neorevivalisme kata Kapolres, para praja dapat tergerak untuk mendalami hakikat ideologi negara (Pancasila) sehingga dapat meresapinya. Serta, melindungi Pancasila dan menjalankan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila yakni berbuat benar, jujur, adil, toleran, dan cinta tanah air sebagai implementasi revolusi mental

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait