oleh

RS UNAIR Buka Layanan Hemodialisis

Surabaya, Channel-indonesia.com – Memperingati hari ginjal dunia yang jatuh di hari Kamis minggu kedua bulan Maret, Rumah Sakit Universitas Airlangga (RS UNAIR) meresmikan unit baru yaitu Hemodialisis. Unit baru yang terletak di lt 1 RS UNAIR itu, dibuka untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan layanan hemodialisis, perawatan cuci darah akibat penyakit gagal ginjal.

“Hari ginjal diperingati bukan untuk pesta-pesta, tetapi justru untuk mengingatkan kita bahwa di dunia ini masih ada penyakit yang berbahaya dan menimbulkan biaya yang sangat besar, yaitu penyakit ginjal kronik,” ujar ketua Pernefri Jatim dr. Pranawa, SpPD-KGH usai meresmikan unit Hemodialisis.

Dokter Pranawa mengatakan, penyakit ginjal kronik tidak bisa menjalani perawatan konserfatif dengan obat-obatan saja. Pasien tersebut memerlukan perawatan terapi pengganti ginjal. Ada tiga perawatan yang dapat dilakukan, di antaranya hemodialisis, continuous ambulatory peritoneal dialysis (CAPD), dan pengobatan yang lebih tuntas yaitu transplantasi ginjal.

Ketiga cara itu bisa dilakukan di Indonesia, termasuk Surabaya. Pasien ginjal kronik jika tidak melakukan transplantasi ginjal, maka harus menjalani hemodialisis dua hingga tiga kali seminggu, sekitar 10-12 kali tindakan dalam satu bulan dengan biaya satu juta sekali perawatan. Tentu, ini jumlah biaya yang tak sedikit.

Menurut data internasional, saat ini, di antara 1 juta penduduk ada seribu pasien yang memerlukan perawatan hemodialisis. Tahun 2016 lalu, Indonesia menghabiskan dana 450 miliar hanya untuk hemodialisis saja.

“Dengan peresmian instalasi baru ini, kami harapkan hemodialisis akan makin berkurang,” ungkap dokter Pranawa.

Penyakit ginjal tidak menyerang secara pilih-pilih. Bisa terjadi pada orang tua, anak-anak, laki-laki, maupun perempuan. Penyakit ginjal kronik, lanjut Pranawa, disebabkan oleh beberapa faktor. 52 persen disebabkan diabetes, dan 32 persen karena hipertensi. Pada perempuan hamil, infeksi saluran kencing, dan keganasan rahim, juga beresiko terkena penyakit ginjal.

Padahal, jika dirawat dengan sempurna, 80 persen hemodialisis sebetulnya bisa dicegah ketika bisa mengobati hipertensi dan diabet. Jika dikalkulasi, pencegahan itu bisa menghemat 200 miliar anggaran yang digunakan untuk hemodialisis.

Sementara itu, Direktur RS UNAIR Prof.Dr.Nasronudin,dr.,Sp.PD-KPTI mengatakan, dibukanya unit Hemodialisis di RS UNAIR bertujuan memberikan pelayanan kepada masyarakat. Dilihat dari waktu ke waktu, lanjutnya, jumlah pasien yang memerlukan bantuan hemodialisis semakin banyak. Pembukaan unit Hemodialisis ini merupakan bentuk keberhasilan pemerintah dan RS UNAIR untuk membantu mempertahankan kualitas hidup dan harapan hidup masyarakat yang terkena penyakit ginjal kronik.

“Kami ingin hadir di tengah masyarakat, yang semula RS UNAIR belum punya fasilitas ini. Sehingga, RS UNAIR bisa semakin dekat dan memberikan layanan yang baik untuk masyarakat,” paparnya.

Suwito, salah seorang pasien hemodialisis saat ini telah dirawat di RS UNAIR. Sebelumnya, laki-laki yang pernah menjadi pemain bola dan pelatih renang itu melakukan perawatan hemodialisis di rumah sakit rujukan terbesar di Jawa Timur, RSUD Dr. Soetomo, Surabaya.

Kepada media, sang istri, Dra Sih Mangesti mengatakan, mulanya Suwito didiagnosis diabet. Lama-kelamaan, keluhan itu merembet dan menyerang mata. Hingga kemudian gagal ginjal menyerang Suwito dan membuatnya harus rutin melakukan cuci darah.

“Semula di RS Dr Soetomo, ikut BPJS. Bapak sudah 23 kali melakukan cuci darah selama tiga bulan ini,” ucap Sih Mangesti. “Pelayanan RS UNAIR bagus. Lebih dekat dengan rumah di Jojoran. Pelayanan di sini bagus. Perawat ramah,” tambahnya. (Ad)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait