Asisten I (Bidang Ekonomi ) Fattah Yasin bersama pejabat terkait saat berikan keterangan pers soal beras thailand

Sidoarjo, channel-indonesia.com – Beras impor sudah masuk ke gudang Perum Bulog yang ada di Banjar Kemantren, Buduran, Sidoarjo. Jumlahnya mencapai 42.250 ton. Yang masuk dari Pelabuhan Tanjung Perak sebanyak 20.000 ton dan Pelabuhan Banyuwangi 25.250 ton.  Keberadaan beras impor itu langsung diawasi oleh Satuan Tugas (Satgas) Pangan provinsi Jawa Timur (Jatim) yang melakukan pencegahan agar beras tidak keluar ke pasar Jatim.

“Langkah ini kami lakukan, karena Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim menolak keberadaan beras impor ini. Karena produksi beras di Jatim tahun ini diproduksi surplus mencapai 8,7 juta ton,” kata Fattah Yasin, Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Pemerintah Provinsi Jawa Timur saat melihat beras impor yang ada di Gudang Bulog Banjar Kemantren, Buduran, Sidoarjo, Kamis (1/3/2018). Ia mengemukakan, surat izin Gubernur Jatim terkait masuknya beras impor di wilayah Jatim ini sangat jelas bahwa beras ini transit saja. “Walaupun di Jatim, beras ini satu kilogram pun tidak akan beredar di sini. Untuk pengamanan, gudang akan ditutup dan kuncinya akan dipegang kepolisian,” katanya.

Proses penggembokan pintu gudang bulog oelh petugas kepolisian disaksikan oleh pajabat bulog dan pemprov

Sementara itu,Tim Satgas Pangan dari Kepolisian Kompol Ernesto Saiser mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan pengawasan beras impor yang ada di Jatim sejak sebelum masuk gudang. “Bahkan sebelum masuk gudang, kami pastikan dulu gudang itu dalam kondisi kosong sehingga beras impor tidak akan tercampur dengan beras dalam negeri. Selanjutnya beras masuk dan kami kunci. Ada dua gerbang yang dikunci, kunci gerbang pertama di bawa oleh Bulog dan gerbang kedua atau yang diluar kami yang pegang. Jika Bulog membuka untuk melakukan perawatan pasti akan didampingi oleh kepolisian,” ucapnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pertanian Provinsi Jatim Hadi Sulistyo mengatakan bahwa tekat gubernur untuk menjaga beras impor agar tidak merembes di pasar Jatim karena produksi beras di wilayah Jatim sangat besar. Bahkan pada tahun ini, produksinya ditarget bisa mencapai 13,4 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) atau 8,7 juta ton setara beras. “Konsumsi beras masyarakat Jatim hanya sekitar 3,5 juta ton GKG atau sekitar 3,6 juta ton setara beras. Masih ada surplus sekitar 5,1 juta ton beras. Jadi, Jatim tidak akan kekurangan beras,” ujarnya.

Kepala Bulog Divisi Regional Jatim Muhammad Hasyim juga memastikan bahwa beras impor yang masuk Jatim tidak akan mengganggu pengadaan beras. Bulog akan tetap melakukan penyerapan beras petani sesuai perintah pemerintah. “Setiap hari kami tetap melakukan pembelian beras. Dan sekali lagi kami tegaskan bahwa beras impor ini tidak akan mengganggu beras petani. Kami hanya akan mendistribusikan beras impor ini sesuai perintah Menteri Perdagangan dan pasti akan terkendali. Jangan ada anggapan bahwa beras ini akan merembes ke pasar Jatim karena pengawasan dan pengamanan sangat ketat,” ujarnya. (Ad)

 

LEAVE A REPLY