oleh

Ada Pancasila Dalam Pembangunan Jembatan Awayanka

JAKARTA, Channel-Indonesia.com – Pancasila yang merupakan ideologi dasar bagi negara Indonesia dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia tergambar dalam proses pembangunan jembatan gantung Awayanka, Papua Barat.

Kelima sila tersebut terurai setiap baitnya mengikuti alur kerja masyarakat Mindiptana. Adalah Prajurit Kopassus yaitu Koordinator dan pengawas pembuatan jembatan gantung Kapten Inf Eko Wahyono, Lettu Inf Andre Algafar Saputra dengan Serka Mangesa yang mengirim kelima sila dalam perwujudan kerjasama, gotong royong ,bahu membahu membangun jembatan yang sangat dinantikan oleh sejumlah kampung di Mindiptana ini.

Ketuhanan yang Maha Esa tercermin dari rasa kebersamaan mereka saat mengerjakan jembatan, sejumlah jamaah Al Muhajirin Mindiptana turut bergabung dengan warga Mindiptana yang beragama nasrani.

Lettu Inf Andre mengatakan untuk mengangkat pemindahan tiang utama jembatan gantung Awayankan ini, pihaknya mengalami kesulitan, sehingga dirinya meminta pertolongan kepada warga. Usai sholat Jumat di Masjid Al Muhajirin, prajurit baret merah ini langsung meminta pertolongan kepada jemaah, bukan itu saja, Lettu Andre juga mendatangi gereja gereja mengumumkan jemaatnya untuk membantu pelaksanaan pembangunan jembatan.

Wargapun bahu membahu memindahkan tiang jembatan gantung Awayanka.(Ist)

Tidak butuh waktu lama, puluhan jemaah masjid maupun gereja membaur menjadi satu bahu membahu mengangkat tiang pancang jembatan yang super berat tersebut. Tidak ada sedikitpun rasa lelah ketika mereka memindahkan tiang pancang tersebut.

Mereka saling canda, tertawa dan saling memberikan masukan pemikiran dalam pembangunan jembatan gantung kedua di Papua ini. Lettu Andre dan Serka Mangesapun menerima semua masukan positif dari warga. Kerukunan antar umat beragama sangat indah disini.

Setiap manusia yang hidup didunia ini membutuhkan keadilan yang beradap dari segala bidang baik soal kelangsungan hidup maupun haknya dalam menikmati kekayaan alam Indonesia. Begitu juga dengan masyarakat Mindiptana, sebelum jembatan gantung ini dibangun, warga Mindiptana yang terdiri dari sejumlah kampung seperti Kampung Awayankan, Andopbit, Kamka, Epsembit, Amgupbit, Tinggam, Nihinbang, Osoo kesulitan dalam menjalankan roda perputaran ekonomi maupun aktivitas sehari sehari. Terbatasnya transportasi dan keadaan alam yang membuat mereka harus ekstra keras bepergian ke kampung tetangga. Keadaan daerah yang sebagian berawa dan sungai inilah yang setiap harinya harus dilalui. Bagi yang mempunyai sampan atau perahu kecil ini bukan hal yang sulit, tetapi bagi yang tidak mempunyai sampan atau perahu kecil, mereka terpaksa harus memutar sangat jauh hingga hitungan jam, atau bagi yang nekat mereka menerjang rawa atau sungai. Sangatlah tepat sila kedua Pancasila Kemanusiaan yang Adil dan Beradap berada dan mengawal masyarakat di Mindiptana.

Sejatinya tidak ada yang berbeda dari setiap manusia yang berada dimuka bumi ini, manusia saling membutuhkan, saling bersosialisasi, dan terus bersatu padu mewujukan Persatuan Indonesia, bila Persatuan Indonesia kuat, apapun bisa dikerjakan dan diatasi dengan mudah.

Pembangunan proyek jembatan gantung Awayanka contohnya. Di kota besar seperti diluar Papua, pastilah setiap pembangunan menggunakan alat berat yang super modern dan canggih, dari pengangkutan materia dengan truck, pengangkatan tiang dengan trolly dan pengadukan semen cor coran dengan mesin yang sudah menyatu dengan truck dan dikendalikan secara digital.

Tetapi lihat di Mindiptana, Persatuan Indonesia – lah alat yang menjadikan jembatan gantung Awayanka terbangun bertahap. Persatuan Indonesia tercermin dari warga Mindiptana antara pendatang maupun pribumi (asli Papua) bersatu padu membangun jembatan, dari proses pengangkatan material, pengadukan bahkan penanaman tiang pancang jembatan. Ya, Persatuan Indonesialah alat utama masyarakat Mindiptana.

Lettu Inf Andre mengakui ada kesulitan dalam jumlah warga yang membantu kegiatan pambangunan jembatan gantung Awayanka, prajurit inipun kemudian meminta kepada warga, ke seluruh Kepala kampung distrik dan para jemaah Masjid serta Gereja untuk melaksanakan kegiatan pembangunan.

Setelah melakukan dialog, wargapun terbuka apa yang menjadikannya bimbang untuk membantu kedua Prajurit Kopassus ini dalam membangun jembatan, kemudian Lettu Andrepun menanyakan kepada warga, apa yang yang menjadikan mereka bimbang, akhirnya setelah ditanya perlahan merekapun mengakui bahwa mereka memikirkan anak dan istri mereka di rumah untuk makan sehari harinya, karena kalau mereka membantu membuat jembatan, berarti mereka tidak bekerja cari makan , di hutan seperti berburu dan kuli.

Lettu Inf Andre musyawarah dialog dengan warga dan pemda seetempat di GOR Mindiptana. (Ist)

Akhirnya diadakanlah musyawarah antara pemda setempat, warga Mindiptana yang diprakarsai oleh Prajurit Kopassus ini. Lettu Andre kemudian menyarankan kepada pihak pemda untuk membantu warga selama mereka membantu membangun jembatan. Dan pihak pemdapun menyetujui saran dari Prajurit Kopassus ini.

Persatuan Indonesialah alat yang utama hingga tiang utama jembatan gantung berdiri kokoh. (Ist)

Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan ini sangatlah dibutuhkan dalam mengambil suatu keputusan dalam pertemuan yang digelar di GOR Distrik Mindiptana.

Sehingga dengan terbangunnya jembatan gantung Awayanka ini, nantinya akan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.(AM)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait