KAMI gelar diskusi publik.(channel-Indonesia/Mistqola)

JAKARTA, Channel-Indonesia.com – Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) mensinyalir hingga saat ini masih banyak calo-calo gelap dan sponsor gelap yang menjadi sumber bencana bagi para TKI yang akan bekerja diluar negeri.

Deputi Perlindungan BNP2TKI, Teguh Hendro Cahyono menjelaskan, karena tak memiliki bekal pengetahuan yang cukup terkait tugas-tugasnya sebagai TKI dan para TKI yang diberangkatkan tidak mengikuti prosedur, akhirnya sering tertimpa masalah.

“Sepengetahuan saya, TKI yang paling banyak bermasalah adalah mereka yang berangkat tak sesuai prosedur. Para TKI ini diberangkatkan oleh calo-calo gelap dan sponsor gelap yang hanya mencari keuntungan materi, sehingga TKI yang diberangkatkan tak memiliki kualitas tertentu,” tegasnya.

Dalam Diskusi Publik Dengan Tema:” Optimalisasi Peran BPJS Ketenagakerjaan Dalam Memberikan Perlindungan Dan Jaminan Sosial Bagi TKI” yang diselenggarakan oleh Kaukus Muda Indonesia bekerjasama dengan BPJS Ketenagakerjaan di Gedung Dewan Pers (JMC) Jl. Kebon Sirih Jakarta Pusat, Selasa(17/10/2017), Deputi Perlindungan BNP2TKI, juga menyoroti masih adanya TKI yang nakal saat menjalankan tugas di luar negeri. Misalnya, masih banyak TKI yang pindah kerja di luar negeri tanpa melaporkan diri.

Khusus soal bahasa, untuk TKI yang akan bekerja di beberapa negara seperti Korea, Taiwan, dan lain-lain, para TKI diharuskan belajar bahasa di Tanah Air.

“Kalau mereka bersungguh-sungguh mempelajari bahasa Korea, Taiwan, dan lain-lain, maka bisa latihan tiga bulan saja mereka sudah mendapat bekal awal dan sudah bisa bekerja dengan komunikasi awal yang sudah didapat melalui pelatihan tersebut. Kalau untuk Malaysia, cukup 3 hari bekerja mereka sudah bisa berbahasa Malaysia. Karena bahasa Malaysia tak jauh berbeda dengan bahasa Indonesia,” kata Teguh.

Kasubdit Perlindungan TKI Kementerian Tenaga Kerja RI, Yudi Adiratna mengatakan, sebelum seorang TKI akan ditempatkan di suatu negara, hal paling penting yang harus dikuasai adalah masalah budaya dan bahasa di negara dimana para TKi akan ditempatkan untuk bekerja di negara yang akan dituju.

“Kalau mereka tak mengusai masalah budaya dan bahasa di negara tersebut, besar kemungkinan akan banyak menemui kendala. Ini jangan sampai terjadi karena nantinya akan menyulitkan TKI yang bersangkutan,” ujar Yudi.

Sementara itu Kepala Cabang BPJS Ketenagakerjaan Kantor Cabang Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Toni WK menyatakan bahwa untuk mengcover TKI yang akan ditempatkan bekerja di luar negeri, BPJS Ketenagakerjaan telah menyiapkan 4 Program, yakni Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Kematian, Jaminan Hari Tua, dan Jaminan Pensiun.

“Hanya dengan membayar iuran Rp370.00, para TKI akan mendapat jaminan kerja selama 31 bulan dengan perincian 5 bulan masa pra kerja, 24 bulan masa kerja, dan 5 bulan masa purna kerja,” ujar Kepala Dany Benedict, Manager Program Monitoring dan Controling BPJS Ketenagakerjaan Pusat.

“ BPJS Ketenagakerjaan juga akan memberikan bea siswa kepada anak dari TKI yang meninggal dunia. TKI yang meninggal dunia akan mendapat dan santunan Rp.85 Juta dan TKI yang mengalami cacat anggota badannya saat bekerja juga mendapatkan penggantian santunan dari BPJS Ketenagakerjaan,” paparnya. (Mistqola)

LEAVE A REPLY