BANTEN, Channel-Indonesia.com – Indonesia mempunyai komitmen kuat untuk mewujudkan Visi 2020, the Right to Sight yaitu visi mengeliminasi berbagai penyakit penyebab kebutaan. Indonesia telah melaksanakan Rapid Assesment of Avoidable Blindness di 15 Provinsi pada penduduk usia >50 tahun. Hasil rata-rata menunjukkan angka kebutaan mencapai 3% dan 70-80 % penyebab utama kebutaan adalah katarak.

Kebutaan akibat katarak akan semakin tinggi bila tidak dilakukan intervensi yang tepat dan cepat. Kebutaan akibat katarak hanya dapat dicegah dengan tindakan operasi mengangkat lensa yang keruh dan menggantinya dengan lensa buatan sehingga penglihatan dapat menjadi normal.

Demikian sambutan Menteri Kesehatan RI Nila Djuwita F. Moeloek, Sp.M (K) pada acara Puncak Kegiatan Bakti Sosial Pelayanan Kesehatan HUT ke-72 TNI, di Cilegon Provinsi Banten, Kamis (28/09/17).

Menkes mengapresiasi kegiatan ini selain operasi katarak juga Pelayanan Kesehatan, Donor Darah, Tes Inspeksi Visual Asam Asetat, Deteksi dini kanker payudara dan Vaksinasi Meales Rubella (MR). Sebab, pelayanan kesehatan sangat diperlukan oleh masyarakat guna meningkatkan kualitas hidup dan derajat kesehatan.

Keberhasilan Pembangunan Kesehatan ditentukan oleh dukungan seluruh jajaran lintas sektor dan dukungan masyarakat serta sangat menentukan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Oleh karena itu dukungan seluruh jajaran lintas sector termasuk dukungan TNI sangat diperlukan dalam upaya promotif-preventif dan upaya kuratif-rehabilitatif.

Upaya promotif-preventif ini diutamakan dalam Pembangunan Kesehatan. Sebab, dengan upaya promotif-preventif yang tepat, benar dan efektif akan mampu mencegah terjadinya penyakit, menurunkan jumlah orang berobat, dan mengurangi pembiayaan kesehatan sehingga menjadi lebih efisien.

”Dengan mengurangi kejadian penyakit dan jumlah orang sakit maka produktivitas bangsa Indonesia akan semakin meningkat dan pada gilirannya akan meningkatkan daya saing kita di dunia internasional,” jelas Menteri Kesehatan.

Salah satu tantangan besar yang harus dihadapi dan disikapi dalam Pembangunan Kesehatan adalah luasnya wilayah Indonesia yang terdiri dari 17.000 pulau dengan penduduk lebih dari 250 juta orang.

Dengan kondisi geografi dan demografi seperti ini maka pelayanan kesehatan yang komprehensif, bermutu, dan terjangkau memerlukan dukungan sumberdaya yang cukup dan sarana-prasarana yang baik serta menjangkau seluruh pelosok Tanah Air.

Karena jajaran TNI mempunyai sarana angkutan pesewat dan kapal laut serta personil yang dapat menjangkau sampai ke daerah terpencil, perbatasan dan pulau-pulau terluar di seluruh Indonesia.

“Kami berharap agar kegiatan TNI di bidang kesehatan agar semakin ditingkatkan di masa mendatang guna mempercepat terwujudnya ketersediaan pelayanan kesehatan yang komprehensif dan bermutu bagi seluruh Indonesia sampai ke pelosok Tanah Air,” tandasnya. (AS)

LEAVE A REPLY