Rektor IIQ Prof Huzaemah Tahido Yanggo (nu.or.id/CI)

TANGERANG SELATAN,Channel-Indonesia.com– Rektor IIQ Prof Dr Huzaemah Tahido Yanggo menyampaikan empat tuntunan Al-Qur’an dalam penggunaan media sosial digital yang saat ini sedang digandrungi masyarakat dunia.

Hal tersebut disampaikan pada orasi ilmiah yang disampaikan pada Wisuda ke-18 Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) di gedung Graha Widya Bhakti Puspitek Tangerang Selatan, Sabtu (26/8/2017)

“Dalam Al-Qur’an ditemukan beberapa kata kunci tentang komunikasi negatif. Kata kunci ini pada saat yang sama juga mengisyaratkan tentang pentingnya sikap hati- hati, mawas diri dan cerdas literasi tentang media sosial,” kata Prof Huzaemah.

Pertama, qaul zur yang berarti perkataan buruk atau kesaksian palsu. Termasuk dalam kategori ini adalah memperindah suatu kebohongan atau tazyin al-kizb.

Dalam Al-Qur’an QS Al-Hajj ayat 30, perintah menjauhi qaul zur tersebut disampaikan bersamaan dengan larangan menyembah berhala. “Kesaksian palsu merupakan dosa besar, sama dengan dosa syirik,” kata Huzaemah.

Kedua, tajassus dan ghibah. Tajassus berarti mencari-cari kesalahan orang lain. Sementara ghibah adalah membicarakan aib atau keburukan orang lain.

Mengutip QS Al-Hujurat ayat 12, menurut Huzaemah, para ulama sepakat bahwa mencari kesalahan orang lain dan menggunjing itu termasuk dosa besar dan para pelakunya harus segera bertaubat dan meminta maaf kepada orang yang bersangkutan.

Ketiga, namimah atau mengadu domba. Maksudnya adalah membawa satu berita kepada pihak lain dengan maksud untuk mengadu domba dengan pihak lain. Kata kunci ini berkaitan dengan kata kunci pertama karena basanya berita yang dibawa adalah berita bohong. Namimah juga bisa berarti provokasi untuk tujuan tertentu.

“Sebaiknya kita berhati-hati ketika mendapatkan berita melalui media sosial. Jangan buru-buru men-share berita-berita yang belum diketahui kebenarannya. Jika diketahui kebenarannya perlu ditimbang apakah apakah berita tersebut mendapatkan manfaat atau justru mendatangkan madarat,” jelas salah seorang anggota A’wan (Dewan Pakar) PBNU ini.

Keempat, sukhriyah yang berarti merendahkan atau mengolok-ngolok orang lain. QS Al-Hujurat ayat 11 melarang orang beriman laki-laki atau perempuan mengolok-olok satu dengan yang lainnya. “Boleh jadi yang diolok-olok lebih mulia di sisi Allah,” kata Prof Huzaemah.

Sementara itu Wisuda ke-18 IIQ dilangsungkan bersamaan dengan peringatan ulang tahun ke-40 berdirinya kampus takhashus (spesialis) Al-Qur’an ini.

Dalam sambutan tertulisnya, Ketua Yayasan IIQ Hj. Erwini Joesoef menyatakan kegembiraannya karena minat belajar Al-Qur’an terus meningkat. Calon mahasiswa baru membludak sampai kampus IIQ tidak bisa menampung semua mahasiswa yang mendaftar.(Am)

Sumber : http://www.nu.or.id

LEAVE A REPLY